Deep Fryer
Mesin Pemanggang
Gas Griddle
Rice Steaming Cart
Bain Marie
Mesin Perebus Mie
Mesin Pengasap
Mesin Pemanggang Daging Kebab
Gas Burner / Kompor
Mesin Perebus Telur / Egg Boiler
Perebus Bakso
Electric Griddle
Kanto Cooking
Air Fryer
Induction Cooker
Gas Cooking Mixer
Dimsum Steamer
Gas Kwali Range
Mesin Takoyaki
Cone Maker
Hot Dog Maker
Mesin Crepes
Mesin Waffle
Mesin Egg Waffle
Mesin Fish Waffle
Mesin Gulali
Mesin Sosis Telur
Mesin Sate Telur Puyuh
Mesin Kue Souffle
Mesin Popcorn
Pencetak Kentang Panjang
Tako Senbei
Pemeras Madu
Gelato Panini Press
14 September 2026 | 11:10 WIB
Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Bekasi Resmi Dimulai
Bekasi, Jawa Barat — Upaya Indonesia dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern memasuki tahap baru. Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Bekasi resmi memulai pembangunannya pada 26 Agustus 2026 di kawasan Ciketing Udik, Bantargebang.
Proyek yang memiliki nilai investasi sekitar Rp3 triliun ini menjadi salah satu langkah strategis untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan sekaligus menghasilkan energi dari limbah yang sebelumnya hanya berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Pembangunan fasilitas ini dilaksanakan melalui sinergi Danantara Indonesia, PT Danantara Investment Management (DIM), dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera). Pemerintah Kota Bekasi juga menempatkan proyek tersebut sebagai bagian penting dari transformasi kawasan Bantargebang menjadi kawasan pengelolaan lingkungan yang lebih modern.
Salah satu aspek penting dari proyek PSEL Bekasi adalah kapasitas pengolahannya. Fasilitas ini dirancang untuk mampu mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari, atau lebih dari 500.000 ton sampah per tahun.
Dengan kapasitas tersebut, PSEL diproyeksikan dapat menangani sekitar 70% timbunan sampah Kota Bekasi yang terolah. Angka ini menjadikan fasilitas tersebut sebagai salah satu infrastruktur penting dalam mengurangi beban pengelolaan sampah di kawasan perkotaan.
Kapasitas 1.500 ton per hari juga menunjukkan bahwa pengelolaan sampah modern membutuhkan infrastruktur dalam skala industri. Prosesnya bukan hanya mengumpulkan dan memindahkan sampah, tetapi mencakup penerimaan bahan baku, pengolahan, pembakaran terkontrol, pengendalian emisi, hingga pemanfaatan energi yang dihasilkan.
Konsep utama PSEL adalah waste-to-energy, yaitu mengolah sampah menjadi sumber energi.
PSEL Kota Bekasi akan menggunakan teknologi moving grate incinerator yang dilengkapi Air Pollution Control System (APCS) berlapis. Teknologi tersebut dirancang untuk melakukan proses pembakaran sampah secara terkontrol sekaligus menangani emisi yang dihasilkan dari proses tersebut. Fasilitas ini mengacu pada standar emisi internasional, termasuk European Industrial Emissions Directive (EU IED).
Energi yang dihasilkan dari proses tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik. Berdasarkan keterangan Danantara, energi hijau dari fasilitas PSEL Bekasi diproyeksikan dapat memenuhi kebutuhan listrik sekitar 55.000 rumah di Kota Bekasi.
Dengan demikian, konsep PSEL membawa dua manfaat sekaligus: mengurangi volume sampah dan menghasilkan energi.
Persoalan kapasitas TPA menjadi salah satu alasan penting di balik pembangunan fasilitas PSEL di Bekasi.
Pemerintah Kota Bekasi menyebut PSEL sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus mendorong perubahan fungsi kawasan Bantargebang. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai tempat pengelolaan sampah diharapkan dapat berkembang menjadi pusat pengolahan sampah, penghasil energi, dan kawasan inovasi lingkungan.
Dari sisi lingkungan, proyek ini diproyeksikan dapat mengurangi kebutuhan lahan TPA sekitar 90%. Selain itu, pengelolaan sampah melalui fasilitas ini diperkirakan dapat menurunkan emisi dari tempat pembuangan akhir hingga sekitar 80%, dengan potensi pengurangan emisi karbon mencapai sekitar 640.000 ton CO? ekuivalen per tahun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan kebersihan kota, tetapi juga menjadi bagian dari strategi energi dan lingkungan.
Pembangunan PSEL Bekasi memiliki nilai investasi sekitar Rp3 triliun. Investasi dengan skala tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan infrastruktur dan teknologi untuk membangun sistem pengolahan sampah modern.
Selain manfaat terhadap pengelolaan lingkungan dan energi, proyek ini diperkirakan dapat menciptakan hingga 1.000 lapangan kerja hijau.
Kehadiran industri baru juga berpotensi menciptakan efek ekonomi lanjutan, mulai dari kebutuhan tenaga kerja, jasa pendukung, pemeliharaan fasilitas, transportasi, hingga berbagai kebutuhan operasional lainnya.
Pembangunan PSEL Kota Bekasi ditargetkan berlangsung secara cepat. Pemerintah Kota Bekasi menyebut fasilitas ini ditargetkan dapat beroperasi dalam sekitar 18 bulan, sementara Danantara menargetkan fasilitas mulai beroperasi pada pertengahan 2028.
Jika target tersebut tercapai, PSEL Bekasi akan menjadi salah satu fasilitas waste-to-energy yang berperan dalam mengubah pendekatan pengelolaan sampah di wilayah perkotaan.
Namun, pembangunan PSEL bukan berarti persoalan sampah selesai sepenuhnya. Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan bahwa kapasitas 1.500 ton per hari masih menyisakan persoalan sekitar 300 ton sampah yang perlu ditangani. Karena itu, pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya tetap menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan sampah secara keseluruhan.
Pembangunan PSEL Kota Bekasi memperlihatkan perubahan paradigma dalam melihat sampah.
Sampah yang sebelumnya dianggap sebagai material yang harus dibuang, kini mulai dipandang sebagai sumber daya yang dapat diolah kembali menjadi energi. Pendekatan seperti ini membutuhkan kombinasi antara teknologi, infrastruktur, regulasi, pengelolaan lingkungan, dan partisipasi masyarakat.
Bagi industri di Indonesia, perkembangan tersebut juga menjadi sinyal bahwa kebutuhan terhadap mesin, peralatan pengolahan, sistem produksi, dan teknologi pendukung akan semakin berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan terhadap proses yang lebih efisien dan berkelanjutan.
PSEL Kota Bekasi bukan hanya proyek pembangunan fasilitas pengolahan sampah senilai Rp3 triliun. Proyek ini menjadi bagian dari perjalanan Indonesia menuju sistem pengelolaan limbah yang lebih terintegrasi—dari sekadar membuang sampah menjadi mengolah, mengurangi dampak lingkungan, dan menghasilkan energi.
Dengan kapasitas 1.500 ton per hari, investasi Rp3 triliun, potensi pasokan listrik untuk sekitar 55.000 rumah, serta penciptaan hingga 1.000 lapangan kerja hijau, proyek ini menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang pembangunan dan nilai ekonomi baru.
Bagi dunia industri, transformasi tersebut menjadi pengingat bahwa efisiensi, teknologi, dan keberlanjutan akan semakin menjadi bagian penting dari perkembangan bisnis Indonesia ke depan.
Fomac sebagai penyedia berbagai kebutuhan mesin dan peralatan untuk industri melihat perkembangan ini sebagai bagian dari semakin besarnya kebutuhan Indonesia terhadap teknologi yang mampu mendukung proses kerja yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan.
Senin - Kamis : 08:30 – 16:30
Jum'at : 08:30 - 17:00
Sabtu : 08:30 - 13:30
Minggu : Tutup
Fomac menjamin setiap layanan purna jual yang Anda butuhkan, didukung oleh tim teknisi handal & ketersediaan suku cadang lengkap. Apabila mesin Anda mengalami kendala, segera Hubungi Kami. Kami akan menjadwalkan kunjungan teknisi setelah adanya service request dari Anda.
Fomin siap membantu Anda. Jangan ragu untuk memberi tahu Fomin kebutuhan kamu.